Oleh : Ir. Sopyan Haris, S.Pt., MM., IPU., ASEAN Eng., ACPE., APEC Eng. 
Ancaman Tersembunyi di Balik Turunnya Produktivitas Telur
Dalam industri peternakan ayam petelur, pakan merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan produksi. Tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa kualitas telur sangat ditentukan oleh kualitas pakan yang dikonsumsi ayam setiap hari. Dari seluruh komponen bahan baku pakan ayam petelur, jagung memegang peranan sangat penting karena sekitar 50% formulasi pakan berasal dari jagung sebagai sumber energi utama.
Pada kondisi kualitas terbaik, jagung mampu menyediakan energi metabolisme sekitar 3330 Kcal/kg. Energi inilah yang digunakan ayam untuk mempertahankan aktivitas tubuh, produksi telur, pembentukan berat telur (egg weight), hingga efisiensi konversi pakan atau Feed Conversion Ratio (FCR). Namun dalam praktik di lapangan, sering ditemukan penggunaan “jagung muda”, yaitu jagung yang dipanen sebelum umur fisiologisnya benar-benar matang. Fenomena ini umumnya terjadi karena dorongan kebutuhan pasar atau keinginan mengejar harga jual jagung yang sedang tinggi.
Sekilas, jagung muda tampak tidak berbeda jauh dengan jagung normal setelah dikeringkan. Akan tetapi, secara nutrisi jagung muda memiliki kelemahan serius yang berdampak langsung terhadap performa produksi ayam petelur. Kondisi ini sering tidak disadari oleh peternak skala menengah ke bawah sehingga menyebabkan produktivitas telur menurun secara perlahan namun pasti.
Artikel ini membahas dampak penggunaan jagung muda dalam pakan ayam petelur serta pentingnya penggunaan pakan berkualitas dan stabil seperti Pakan 524 Alfa + Probiotik sebagai solusi praktis dan efisien dalam menjaga performa produksi.
Jagung Muda dan Penurunan Nilai Energi Pakan
Masalah utama dari jagung muda terletak pada rendahnya kandungan energi metabolisme. Jagung yang dipanen terlalu dini umumnya memiliki energi di bawah 3100 Kcal/kg, jauh lebih rendah dibanding jagung matang berkualitas baik yang dapat mencapai 3330 Kcal/kg.
Rendahnya energi ini terjadi karena proses pemasakan “germ” atau lembaga pada inti jagung belum berlangsung sempurna. Pada fase pematangan akhir, jagung sebenarnya masih mengalami proses pengisian pati dan pembentukan cadangan energi. Ketika jagung dipanen terlalu cepat, proses biologis tersebut terhenti sebelum sempurna sehingga kandungan energinya menjadi rendah.
Selain itu, jagung muda juga memiliki kadar air yang masih tinggi. Untuk dapat digunakan sebagai bahan baku pakan, jagung harus melalui proses pengeringan (drying). Namun proses pengeringan tidak mampu memperbaiki kualitas energi jagung yang sejak awal memang belum terbentuk secara optimal. Yang terjadi justru fisik biji jagung menjadi kisut, ringan, dan kurang padat.
Inilah kesalahan persepsi yang sering terjadi di lapangan. Banyak peternak menganggap bahwa selama jagung sudah kering maka kualitasnya sudah baik. Padahal, kadar air yang rendah tidak otomatis menjamin kandungan energi tinggi. Jagung muda tetap memiliki kualitas energi yang rendah meskipun telah melalui proses pengeringan.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Tata Laksana pada majalah Poultry Indonesia edisi Juli 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juli 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group