Sekitar 60–70% tubuh ayam terdiri dari air, sehingga air sangat penting untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh. 
Bagi sebagian besar peternak, pakan adalah segalanya. Setiap hari, kalkulasi soal komposisi nutrisi, efisiensi konversi pakan, hingga harga per kilogram menjadi perhatian utama. Namun ada satu hal yang justru lebih vital, lebih banyak dikonsumsi ayam, dan ironisnya paling sering diabaikan yaitu air minum.
Padahal, air berfungsi sebagai komponen utama dalam berbagai proses fisiologis tubuh ayam, mulai dari metabolisme, pencernaan, hingga pengaturan suhu tubuh. Tanpa ketersediaan air yang cukup dan berkualitas, ayam tidak dapat menjalankan fungsi tubuhnya secara optimal sehingga kesehatan dan produktivitasnya akan terganggu. Air membantu proses metabolisme, sirkulasi nutrisi, serta pengaturan suhu tubuh ayam, terutama pada kondisi cuaca panas.
Air membantu mengangkut nutrisi dari pakan ke seluruh jaringan tubuh serta berperan dalam proses pembuangan sisa metabolisme. Selain itu, air juga membantu menjaga keseimbangan suhu tubuh ayam, terutama ketika suhu lingkungan kandang meningkat. Dalam kondisi panas, ayam akan meningkatkan konsumsi air sebagai mekanisme alami untuk mendinginkan tubuhnya dan mengurangi risiko stres panas atau heat stress.
Untuk mendalami manajemen air minum, Tim Poultry Indonesia mewawancarai Fadhel Fajar Utama selaku Supervisor Breeding Farm di PT Intertama Trikencana Bersinar (ITB) secara daring pada Senin, (9/3). Pria asal Depok ini sudah hampir tiga tahun mengelola kandang closed house berkapasitas 10.000 ekor. Dari pengalamannya di lapangan, ia menyimpulkan bahwa manajemen air minum bukan sekadar soal ketersediaan, melainkan soal kualitas dan konsistensi.
Urgensi Air Minum
Ketika ditanya soal seberapa besar pengaruh air minum terhadap performa ayam, Fadhel menjelaskan bahwa peran air minum sangat penting dan sering kali diabaikan oleh sebagian peternak. Kadang peternak hanya fokus pada konsumsi pakan, padahal water intake juga penting.
“Menurut saya, air ini merupakan nutrisi paling penting dalam perunggasan. Konsumsi air selalu lebih tinggi daripada konsumsi pakan, perbandingannya bisa 2 banding 1. Jadi kalau kualitas airnya buruk, konsumsinya turun, dan itu bisa langsung berdampak ke produksi,” jelasnya.
Di kandang breeder tempat Fadhel bekerja, tujuan pemeliharaannya adalah untuk produksi telur dan DOC (Day Old Chick). Ketika ayam enggan minum karena kualitas air yang buruk, mungkin karena pH tidak ideal ataupun terkontaminasi bakteri, tubuh ayam bisa mengalami dehidrasi. Dari situ, efek dominonya jelas seperti konsumsi pakan menurun, produksi telur merosot, dan fertilitas pejantan pun ikut terganggu.
“Pokoknya langsung ketahuan efeknya kalau airnya bermasalah. Ayam itu sebenarnya sama seperti manusia, kalau airnya terasa asin atau asam, mereka juga malas minum, tapi perbedaannya mereka tidak bisa bicara saja, tapi bisa kita lihat melalui water intakenya,” kata Fadhel.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Tata Laksana pada majalah Poultry Indonesia edisi Juni 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juni 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group