Bukan sekadar cara menaruh pakan dalam gudang, ternyata manajemen penyimpanan pakan bisa menjaga kualitas sekaligus mencegah kerusakan.
Gudang pakan sering kali hanya dipandang sebagai tempat penyimpanan sementara sebelum pakan diberikan kepada ternak. Padahal, kualitas pakan tidak hanya ditentukan oleh formulasi dan proses produksinya di pabrik, tetapi juga oleh bagaimana pakan tersebut dikelola selama berada di peternakan. Kesalahan yang tampak sepele, seperti menumpuk karung langsung di lantai, mengabaikan kelembapan gudang, atau tidak menerapkan sistem rotasi stok, dapat memicu penurunan kualitas nutrisi, kontaminasi jamur, hingga kerugian ekonomi yang tidak sedikit. Karena itu, manajemen penyimpanan pakan sejatinya bukan sekadar urusan gudang, melainkan bagian penting dari upaya menjaga performa dan kesehatan ternak di kandang.
Menurut drh. Windu Suradjaya Hudana, Technical Operations Advisor PT Sido Agung Agro Prima, banyak persoalan yang muncul di lapangan sebenarnya berawal dari praktik penyimpanan yang kurang tepat. Dalam wawancara tertulis yang diterima Tim Poultry Indonesia pada Jumat (22/5), Windu banyak mengulas berbagai aspek penting dalam manajemen penyimpanan pakan, mulai dari syarat teknis gudang yang ideal, faktor-faktor yang mempercepat kerusakan pakan, hingga kesalahan-kesalahan mendasar yang masih kerap ditemukan pada peternakan rakyat. 
Penyimpanan Pakan yang Ideal
Sebelum membahas persoalan pakan yang lebih kompleks, Windu menegaskan bahwa segalanya bermula dari kondisi fisik gudang itu sendiri. Sebuah gudang pakan harus dirancang dan dikelola dengan memperhatikan sejumlah parameter teknis yang ketat.
“Suhu ideal untuk penyimpanan pakan berada di kisaran 18 hingga 30 derajat Celsius. Di luar rentang itu, proses degradasi nutrisi akan berjalan jauh lebih cepat. Kelembaban udara juga penting, yang idealnya harus dijaga di bawah 75 persen. Kelembaban tinggi bisa dibilang musuh utama pakan, ia membuka pintu bagi pertumbuhan jamur dan berbagai organisme perusak lainnya”.
Selain suhu dan kelembaban, Windu juga menyampaikan bahwa sirkulasi udara yang baik tidak bisa dikompromikan. Udara yang stagnan di dalam gudang menciptakan kondisi lembab yang ideal bagi pertumbuhan patogen. Oleh karena itu, ventilasi yang baik harus menjadi syarat utama saat merencanakan desain bangunan gudang pakan.
“Pakan tidak boleh bersentuhan langsung dengan lantai. Pallet mungkin terlihat sepele, tapi perannya penting dalam menjaga kualitas pakan. Selain berperan sebagai alas untuk meningkatkan sirkulasi udara, pallet juga menjadi penghalang agar pakan tidak menyerap kelembapan permukaan lantai. Ketinggian ideal biasanya 5-15 cm dan tumpukan keatas maksimal 3 pallet dan tiap pallet tidak lebih dari 6 tumpukan karung pakan,” tegas Windu. 
Selanjutnya, beliau juga menerangkan tentang sistem FIFO (First In, First Out). Dimana pakan yang pertama masuk ke gudang harus menjadi yang pertama pula keluar dan digunakan. Jika sistem FIFO tidak dijalankan dengan konsisten, peternak bisa-bisa memberikan pakan yang sudah kadaluarsa tanpa sadar.
Faktor-Faktor Penurun Kualitas Pakan
Ketika ditanya faktor apa yang paling sering menyebabkan penurunan kualitas pakan selama penyimpanan, Windu tidak langsung menjawab dengan satu jawaban tunggal. Menurutnya, permasalahan ini bersifat multifaktorial, saling berkaitan dan saling memperkuat satu sama lain.
“Yang paling dasar adalah manajemen penyimpanan yang keliru. Bisa jadi mengabaikan prinsip FIFO, ada juga yang memang bangunan kandangnya sudah tidak ideal yang menyebabkan kondisi lingkungan gudang mempercepat degradasi nutrisi pakan”.
Selain itu, berdasarkan pengalamannya ia juga pernah menemukan serangan hama. Windu menjelaskan empat jenis hama utama yang biasanya ia temui dan menjadi ancaman bagi pakan tersimpan, yakni jamur, kutu, serangga, dan tikus. Masing-masing membawa dampak kerusakan yang berbeda namun sama-sama merugikan.
Di antara berbagai hama yang mengancam kualitas pakan, tikus mendapat perhatian khusus dari Windu. Banyak peternak mengira bahwa kerugian akibat tikus hanya sebatas pakan yang dimakan langsung oleh hewan pengerat tersebut. Padahal, masalahnya jauh lebih luas.
“Tikus, sebagai salah satu kelompok rodentia, memiliki kebiasaan membuat lubang pada karung pakan. Lubang-lubang ini menyebabkan pakan bocor dan tumpah, lubang ini memicu masuknya agen perusak lain seperti serangga dan jamur ke dalam karung. Satu lubang saja bisa membuka jalan bagi serangan hama berantai”.
Lebih jauh lagi, penurunan kualitas pakan juga bisa terjadi melalui jalur kontaminasi. Feses, urin, dan bulu tikus yang jatuh ke dalam pakan merupakan sumber kontaminasi. Pakan yang terkontaminasi kotoran tikus tidak boleh diberikan kepada ayam dalam kondisi apa pun.
Di sisi lain, dari sekian banyak ancaman yang mengintai pakan selama penyimpanan, jamur dan mikotoksin merupakan dua hal yang menurut Windu paling berbahaya. Ia menjelaskan bahwa kontaminasi jamur pada pakan yang disimpan terlalu lama menyebabkan risiko kesehatan dan ekonomi.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Tata Laksana pada majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group