POULTRYINDONESIA, Jakarta – Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) terus memperkuat langkah stabilisasi subsektor ayam petelur nasional di tengah fluktuasi harga telur yang terjadi di sejumlah daerah. Upaya ini dilakukan untuk menjaga keberlanjutan usaha peternak rakyat sekaligus memastikan keterjangkauan pangan bagi masyarakat.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, mengatakan bahwa pemerintah memahami tekanan yang saat ini dihadapi peternak layer akibat melemahnya harga telur di tingkat produsen. Ia juga menegaskan bahwa arahan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya kehadiran negara dalam menjaga keberlangsungan usaha peternak rakyat agar tetap mampu berkembang.
Menurutnya, pemerintah terus memperkuat koordinasi dengan lintas kementerian, pemerintah daerah, asosiasi peternak, dan pelaku usaha guna menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan telur nasional.
“Kami terus mendorong penguatan serapan pasar, distribusi antardaerah, hilirisasi produk peternakan, serta optimalisasi pemanfaatan telur pada berbagai program pemenuhan gizi masyarakat. Langkah ini penting agar harga di tingkat peternak dapat kembali bergerak lebih stabil,” ujar Agung di Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026.
Agung menambahkan, kapasitas produksi telur nasional yang kuat menjadi salah satu penopang ketahanan pangan Indonesia, sehingga perlu dijaga melalui penguatan tata niaga, distribusi, dan hilirisasi agar manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih merata oleh peternak rakyat.
Di tengah dinamika harga tersebut, sejumlah asosiasi peternak memastikan kondisi di lapangan masih berjalan kondusif. Ketua Rumah Kebersamaan BKT NT Blitar, Eti Marlina, mengatakan aktivitas perdagangan telur di tingkat peternak tetap berjalan dengan mengacu pada harga yang telah disepakati bersama.
“Harga telur saat ini memang masih berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) sebesar Rp26.500/kg akibat tingginya pasokan produksi di tengah melemahnya daya serap pasar dalam beberapa pekan terakhir,” ujarnya.
Ia juga menyebut sejumlah asosiasi peternak dalam rembuk nasional pada 2 Mei 2026 sepakat menjaga komunikasi dan koordinasi bersama pemerintah.
Hal serupa disampaikan Ketua Koperasi Unggas Sejahtera Kendal, Suwardi. Menurutnya, peternak di wilayah Kendal dan sekitarnya terus berupaya menjaga stabilitas harga telur di tingkat lapangan.
“Peternak layer di wilayah Kendal dan sekitarnya terus berupaya menjaga situasi tetap kondusif, termasuk dengan menjaga harga jual telur agar tidak terus mengalami penurunan,” ucapnya.
Sementara itu, pemerintah daerah di Kabupaten Magetan mulai memperkuat langkah penanganan melalui koordinasi lintas perangkat daerah. Salah satu upaya yang dibahas yakni peningkatan penyerapan telur melalui penambahan menu berbasis telur pada program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pemerintah juga terus memperkuat hilirisasi hasil peternakan untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya serap produksi peternak. Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Ditjen PKH, Makmun, mengatakan hilirisasi menjadi strategi penting dalam menciptakan nilai tambah sekaligus memperkuat stabilitas usaha peternak.
“Kami terus mendorong pengembangan produk olahan telur dan diversifikasi pemanfaatan hasil peternakan agar pasar menjadi semakin luas. Hilirisasi akan membantu menciptakan nilai tambah sekaligus memperkuat stabilitas usaha peternak,” kata Makmun.
Menurutnya, peningkatan konsumsi protein hewani juga menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan subsektor peternakan nasional.
“Kami optimistis konsumsi telur nasional masih sangat potensial untuk terus ditingkatkan. Dengan penguatan edukasi gizi dan perluasan pemanfaatan produk peternakan dalam berbagai program pemerintah, maka peluang pasar ke depan akan semakin besar,” pungkas Makmun.
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Poultry Indonesia