Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kulit pisang berpotensi menggantikan sebagian jagung sebagai sumber energi dalam pakan ayam. Bahkan, penggunaannya hingga 18% pada ransum ayam petelur dilaporkan tidak menurunkan performa produksi maupun kualitas telur.
Dalam usaha ayam broiler maupun layer, biaya pakan masih menjadi komponen terbesar yang membebani kegiatan budi daya, yaitu sekitar 65–70% dari total biaya produksi. Ketergantungan pada bahan baku serealia, terutama jagung dan produk turunannya, juga membuat industri rentan terhadap gejolak harga. Meningkatnya kebutuhan jagung untuk pangan manusia dan biofuel, ditambah persaingan penggunaan lahan serta dampak perubahan iklim, terus mendorong kenaikan harga pakan. Kondisi ini tidak hanya menekan margin peternak, tetapi juga berpotensi memengaruhi harga produk unggas di tingkat konsumen.
Situasi tersebut mendorong berbagai upaya pencarian bahan pakan alternatif yang lebih murah, mudah diperoleh, dan berkelanjutan. Salah satu yang mulai banyak mendapat perhatian adalah limbah tanaman pisang, terutama kulit pisang (Musa paradisiaca). Limbah ini tersedia melimpah dari pasar tradisional maupun industri pengolahan pisang. Ia mengandung pati, protein, lemak, serat pangan, vitamin, dan mineral yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan unggas.
Kenapa Pisang?
Sebelum lebih dalam membahas manfaatnya, perlu diketahui bahwa pisang sejak dulu dikenal sebagai tanaman serba guna karena dari bagian akar hingga daunnya dapat dimanfaatkan. Meski begitu, tetap ada limbah yang menumpuk dan tidak digunakan dari hilir superfood ini, yakni kulit pisang. Jumlahnya bahkan cukup fantastis, sekitar 2,9 juta ton kulit pisang jadi limbah setiap tahunnya.
Untuk mengurangi bahan organik ini menjadi sampah, inovasi pemanfaatannya pun sudah sangat sering diangkat, seperti diolah kembali menjadi bahan pangan tinggi serat, biofuel, pakan ternak, hingga kerajinan yang ramah lingkungan. Meski bukan penemuan baru, tapi hingga kini pemanfaatan limbah kulit pisang masih belum maksimal dipraktikkan. Ini juga merupakan kabar baik karena sektor pakan ternak akan terus memperbarui ilmu pengetahuannya untuk mencari bahan pakan alternatif yang paling efisien dalam rangka mengurangi biaya produksi.
Berdasarkan penelitian terdahulu yang dihimpun, telah ditemukan bahwa kulit pisang kering dapat digunakan hingga 18% dalam ransum ayam petelur tanpa menurunkan performa produksi maupun kualitas telur, asalkan melalui proses pengolahan yang menekan sifat antinutrisinya. Sejumlah studi lain turut melaporkan bahwa tepung kulit pisang berpotensi menggantikan sebagian jagung sebagai sumber energi dalam pakan ayam.
Namun tak hanya soal kulit pisang yang masih jadi masalah di bidang pengolahan sampah, bagaimana meningkatkan produktivitas ayam juga perlu jadi pertimbangan. Untuk itu dalam penelitian ini, penulis mencoba menganalisis berbagai publikasi yang membahas pakan berbasis tanaman pisang sebagai sumber pakan baru yang ramah lingkungan dan hemat biaya bagi industri perunggasan, termasuk melalui pemanfaatan kulit pisang, daun pisang, hingga pisang fermentasi.
Alasan produk pisang fermentasi turut serta dalam kajian ini adalah karena pernah dilaporkan bahwa proses ini mampu meningkatkan kualitas nutrisi dan senyawa bioaktif dari tanaman pisang, sehingga memperbesar peluang pemanfaatannya sebagai pakan alternatif. Meski demikian, hingga kini belum terdapat rekomendasi pasti mengenai tingkat penggunaan masing-masing bagian pisang yang paling optimal dalam ransum unggas, sehingga penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan efektivitas dan keamanannya dalam skala industri.
Informasi yang digunakan dalam kajian ini diperoleh dari berbagai basis data ilmiah bereputasi, antara lain SpringerLink, Scopus, Web of Science, PubMed, Google Scholar, dan ScienceDirect. Seleksi artikel dilakukan secara ketat dengan hanya memasukkan publikasi berbahasa Inggris yang telah melalui proses peer review dan diterbitkan sejak tahun 2012, dengan pengecualian dua artikel yang diterbitkan pada tahun 2006 karena dinilai masih relevan. Untuk ringkasan prosiding konferensi, buku, maupun bagian dari buku tidak dimasukkan dalam kajian ini.
Tanaman Pisang sebagai Pakan Unggas
Seperti yang kita ketahui, pisang merupakan salah satu tanaman budi daya tertua di dunia yang telah dimanfaatkan manusia selama sekitar 10.000 tahun, tidak hanya sebagai sumber pangan tetapi juga memiliki berbagai potensi fungsional. Hampir seluruh bagian tanaman pisang dapat dimanfaatkan, mulai dari daun yang kaya serat, tanin, polifenol, dan flavonoid serta banyak digunakan sebagai pembungkus makanan maupun pengobatan tradisional, hingga batang semu yang merupakan biomassa terbesar tanaman.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Riset pada majalah Poultry Indonesia edisi September 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754 atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.









