Oleh: Andi Mushawwir*
Peningkatan suhu bumi bukan lagi sekadar isu lingkungan yang dibicarakan dalam konferensi perubahan iklim. Dampaknya mulai terasa di ruang produksi, termasuk kandang unggas. Bagi industri perunggasan, terutama di negara tropis seperti Indonesia, kenaikan suhu lingkungan bukan hanya membuat ayam terengah-engah pada siang hari. Tekanan panas dapat mengganggu kesejahteraan ternak, menekan produktivitas, dan meningkatkan risiko kerugian usaha.
Unggas termasuk ternak yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Ayam tidak memiliki kelenjar keringat yang efektif untuk membuang panas tubuh. Tubuhnya juga tertutup bulu, sementara aktivitas metabolisme yang tinggi terus menghasilkan panas internal. Kondisi ini semakin penting pada broiler modern. Seleksi genetik telah menghasilkan ayam dengan pertumbuhan sangat cepat dan efisiensi pakan tinggi, tetapi kemampuan produksi tersebut juga diikuti produksi panas metabolik yang lebih besar.
Karena itu, tantangan industri perunggasan ke depan bukan hanya bagaimana mempertahankan produksi ketika suhu lingkungan meningkat. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana mempertahankan performa tanpa membuat ayam harus menanggung beban panas yang berlebihan.
Kesejahteraan dan Produktivitas Berawal dari Kemampuan Ayam Menghadapi Panas
Pemahaman tentang animal welfare kini tidak lagi sebatas memastikan ayam memperoleh pakan, air minum, dan terbebas dari penyakit. World Organisation for Animal Health (WOAH) memandang kesejahteraan hewan sebagai kondisi fisik dan mental hewan dalam kaitannya dengan keadaan tempat hewan hidup dan mati. Konsep Five Freedoms juga mencakup kebebasan dari lapar dan haus, ketakutan dan tekanan, ketidaknyamanan fisik dan termal, rasa sakit dan penyakit, serta kesempatan mengekspresikan perilaku normal.
Dalam konteks perubahan iklim, kebebasan dari ketidaknyamanan termal menjadi sangat penting. Suhu kandang bukan sekadar angka dalam sistem kontrol, tetapi bagian dari kondisi yang menentukan kesejahteraan ayam. Pada kondisi panas, ayam berusaha menjaga keseimbangan antara panas yang dihasilkan tubuh dan panas yang dapat dilepaskan ke lingkungan. Selama mekanisme ini masih mampu bekerja, suhu tubuh dapat dipertahankan. Masalah muncul ketika panas dari lingkungan dan panas metabolik lebih besar daripada kemampuan ayam membuang panas. Kondisi inilah yang dikenal sebagai heat stress.
Tanda awalnya dapat diamati secara langsung. Ayam mengurangi aktivitas, merenggangkan sayap, meningkatkan konsumsi air, dan melakukan panting atau bernapas cepat melalui mulut. Panting merupakan mekanisme penting untuk membuang panas karena ayam tidak dapat berkeringat secara efektif. Namun, jika berlangsung terus-menerus, mekanisme ini meningkatkan pelepasan karbon dioksida dan dapat mengganggu keseimbangan asam-basa tubuh.
Ayam juga akan mengurangi konsumsi pakan. Secara fisiologis, hal tersebut merupakan cara untuk menekan produksi panas metabolik karena proses pencernaan dan metabolisme nutrien menghasilkan panas. Namun bagi peternak, penurunan konsumsi pakan berarti berkurangnya asupan energi dan protein, pertumbuhan yang lebih lambat, serta penurunan efisiensi produksi.
Pada ayam petelur, tekanan panas berkepanjangan dapat menurunkan produksi dan kualitas telur. Pada broiler, dampaknya dapat terlihat pada pertumbuhan, efisiensi pakan, kualitas daging, kesehatan saluran pencernaan, hingga peningkatan mortalitas. Dengan kata lain, ayam mempertahankan fungsi tubuhnya dengan mengorbankan sebagian potensi produksi.
Dampak heat stress juga tidak berhenti pada perubahan perilaku. Peningkatan suhu tubuh memicu perubahan pada sistem endokrin, metabolisme, sirkulasi darah, sistem imun, dan status oksidatif. Produksi heat shock proteins meningkat sebagai bagian dari mekanisme pertahanan sel. Pada saat yang sama, pembentukan reactive oxygen species dapat meningkat dan memicu stres oksidatif apabila tidak diimbangi sistem antioksidan tubuh.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Opini pada majalah Poultry Indonesia edisi September 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.