Oleh: Suryo Suryanta Harjo
Fluktuasi harga ayam hidup (live bird) dan telur konsumsi kembali menjadi perhatian dalam beberapa bulan terakhir. Sempat bergerak naik dan memunculkan optimisme, harga kemudian kembali merosot hingga berada di bawah Harga Pokok Produksi (HPP). Kondisi ini membuat banyak pelaku usaha, terutama peternak, harus menghadapi tekanan yang tidak ringan.
Fenomena tersebut tentu bukan hal baru. Siklus serupa berulang hampir setiap tahun dengan pola yang relatif sama. Ketika harga jatuh, berbagai penyebab segera dikemukakan. Mulai dari kelebihan produksi (oversupply), melemahnya daya beli masyarakat, meningkatnya impor Grand Parent Stock (GPS), dominasi perusahaan besar, peran broker, hingga kebijakan pemerintah yang dinilai kurang tepat. Seluruh faktor tersebut memang memiliki pengaruh dengan intensitas yang berbeda-beda, tetapi diskusi sering kali berhenti pada upaya mencari siapa yang harus disalahkan.
Padahal, industri unggas jauh lebih kompleks dibanding sekadar persoalan harga. Industri ini merupakan sebuah sistem yang saling terhubung, mulai dari pembibitan, pabrik pakan, peternak, rumah potong unggas (RPHU), rantai dingin (cold chain), distribusi, industri pengolahan, hingga produk akhirnya berada di meja makan konsumen. Setiap keputusan yang diambil pada satu mata rantai akan memengaruhi mata rantai lainnya.
Karena itu, sudah saatnya pertanyaan yang diajukan bergeser. Persoalannya bukan lagi siapa yang menyebabkan harga turun, melainkan mengapa siklus tersebut terus berulang dan bagaimana membangun industri yang lebih stabil. Pada akhirnya, tantangan terbesar industri unggas bukan sekadar meningkatkan produksi, tetapi menemukan titik keseimbangan. Keseimbangan antara kapasitas produksi dan kebutuhan pasar, antara efisiensi perusahaan besar dan keberlanjutan peternak rakyat, antara kepentingan produsen dan daya beli konsumen, hingga antara keuntungan jangka pendek dan ketahanan industri dalam jangka panjang.
Dalam filsafat Yunani, Aristoteles memperkenalkan konsep golden mean atau jalan tengah, yakni keutamaan yang lahir ketika seseorang mampu menghindari dua kutub yang ekstrem. Prinsip tersebut sesungguhnya juga berlaku dalam ekonomi. Pasar yang kekurangan pasokan akan memicu inflasi dan membebani konsumen. Sebaliknya, pasar yang terus-menerus dibanjiri produksi akan menekan harga hingga pelaku usaha kehilangan ruang untuk bertahan. Industri unggas Indonesia saat ini berada pada titik di mana keseimbangan tersebut perlu dibangun kembali.
Pasar bukan medan perang, melainkan sebuah ekosistem
Selama ini industri unggas sering dipersepsikan sebagai arena pertarungan kepentingan. Integrator berhadapan dengan peternak mandiri, peternak menyalahkan broker, perusahaan besar diposisikan berseberangan dengan UMKM, sementara pemerintah kerap menjadi sasaran ketika harga bergejolak.
Cara pandang seperti itu sesungguhnya terlalu menyederhanakan persoalan. Industri unggas lebih tepat diibaratkan sebagai sebuah orkestra. GPS, hatchery, pabrik pakan, peternak, RPHU, distributor, pedagang, hingga konsumen memainkan instrumen yang berbeda-beda. Musik hanya akan terdengar harmonis apabila seluruh pemain mengikuti partitur yang sama. Ketika setiap pelaku memainkan temponya sendiri, yang muncul bukan harmoni, melainkan kebisingan pasar.
Pandangan ekonomi klasik memang menempatkan pasar sebagai arena persaingan. Siapa yang paling efisien akan bertahan, sedangkan yang tidak mampu akan tersingkir. Persaingan tetap menjadi elemen penting karena mendorong inovasi, efisiensi, dan peningkatan produktivitas. Namun perkembangan ekonomi modern menunjukkan bahwa industri tidak hanya dibangun oleh kompetisi, melainkan juga oleh interdependensi atau saling ketergantungan.
Dalam industri unggas, tidak ada pelaku yang benar-benar berdiri sendiri. Perusahaan pembibitan membutuhkan hatchery, hatchery membutuhkan peternak, peternak membutuhkan pakan, sementara industri pakan bergantung pada ketersediaan jagung dan bahan baku lainnya. Di sisi hilir, RPHU membutuhkan pasokan ayam yang berkelanjutan, distributor membutuhkan volume yang konsisten, dan konsumen membutuhkan produk berkualitas dengan harga yang wajar.
Ketika salah satu mata rantai mengalami gangguan, dampaknya akan dirasakan oleh keseluruhan sistem. Karena itu, pasar tidak semata-mata menjadi tempat bertemunya penjual dan pembeli, tetapi merupakan sebuah ekosistem yang mempertemukan berbagai kepentingan dalam hubungan yang saling bergantung.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Opini pada majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.