Keberhasilan pemeliharaan bukan hanya ditentukan oleh pakan berkualitas tinggi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kesehatan usus ayam.
Gangguan saluran pencernaan masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam industri perunggasan. Di lapangan, peternak sering kali menemukan ayam dengan kondisi diare, nafsu makan menurun, pertumbuhan tidak seragam, hingga performa produksi yang merosot tanpa penyebab yang jelas. Salah satu kondisi yang cukup sering ditemukan adalah dysbacteriosis.
Untuk mendalami topik tersebut, Tim Poultry Indonesia mewawancarai Jimmy Oktobrian Silitonga selaku Technical Service Staff PT Japfa Comfeed Indonesia secara tertulis pada Selasa, (26/5). Dalam wawancara tersebut, dijelaskan bahwa dysbacteriosis merupakan kondisi ketika keseimbangan mikrobiota di dalam saluran pencernaan ayam mengalami gangguan. Flora normal yang seharusnya membantu menjaga kesehatan usus justru mengalami peningkatan jumlah secara berlebihan dan berubah menjadi patogen oportunis.
“Dysbacteriosis adalah kondisi ketika bakteri flora normal seperti Escherichia coli dan Clostridium mengalami peningkatan jumlah sehingga berubah menjadi patogen yang menginfeksi saluran pencernaan ayam,” jelasnya.
Kondisi tersebut tidak bisa dianggap sepele. Ketika gangguan keseimbangan mikrobiota berlangsung cukup lama tanpa penanganan, infeksi kronis pada saluran pencernaan dapat terjadi dan secara perlahan menurunkan performa ayam.
Urgensi Keseimbangan Mikrobiota
Menurut Jimmy, dalam pemeliharaan ayam modern, performa sangat dipengaruhi oleh kemampuan ayam dalam mengkonsumsi dan menyerap nutrisi secara optimal. Feed intake yang baik menjadi tanda pertumbuhan ayam broiler maupun produksi telur pada ayam layer.
Namun, ketika keseimbangan mikrobiota terganggu, proses penyerapan nutrisi juga ikut terganggu. Usus yang mengalami peradangan tidak mampu bekerja maksimal dalam menyerap protein, energi, mineral, maupun nutrisi penting lainnya.
“Gangguan penyerapan nutrisi yang berlangsung terus menerus dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan ayam atau ADG pada broiler, serta penurunan produksi telur pada layer,” ungkap Jimmy.
Akibatnya, ayam mulai mengalami penurunan performa secara perlahan. Pertumbuhan menjadi tidak optimal, konversi pakan memburuk, dan ayam lebih rentan mengalami imunosupresif. Jika kondisi ini terus berlanjut, ayam akan semakin mudah terserang penyakit lain.
“Tidak sedikit kasus di lapangan yang awalnya hanya terlihat sebagai gangguan pencernaan ringan, namun berkembang menjadi outbreak karena penyebaran horizontal di dalam kandang berlangsung sangat cepat”.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.