Dari yang dulunya hanya dikenal sebagai pemacu pertumbuhan, kini feed additive sudah menjelma menjadi penopang efisiensi produksi perunggasan

Dalam industri perunggasan modern, feed additive mungkin hanya digunakan dalam jumlah yang relatif kecil di dalam pakan. Namun, perannya tidak bisa diukur dari seberapa banyak bahan tersebut ditambahkan. Kini, feed additive fungsinya semakin beragam, mulai dari membantu menjaga kualitas pakan, mendukung kesehatan saluran pencernaan, meningkatkan kecernaan nutrien, hingga membantu efisiensi produksi.

Feed additive sendiri bukanlah suatu hal yang baru. Penggunaannya telah berlangsung jauh sebelum istilah feed additive sendiri populer seperti sekarang. Perubahan kebutuhan industri, perkembangan teknologi, serta perubahan kebijakan kemudian membuat peran feed additive berkembang semakin luas. Dari yang semula banyak dikaitkan dengan pengendalian penyakit dan pemacu pertumbuhan, kini feed additive menjadi salah satu instrumen yang dipertimbangkan dalam menyusun strategi nutrisi unggas.

Perjalanan Feed Additive di Indonesia

Jika ditarik jauh ke belakang, penggunaan feed additive di dunia memiliki sejarah panjang. Saat berdiskusi secara daring, pada Rabu (26/8), Tony Unandar selaku Private Poultry Consultant menjelaskan bahwa ketika dirinya mulai terjun ke lapangan pada 1986, penggunaan feed additive di Indonesia sebenarnya sudah ditemukan. Bahkan, salah satu bentuk penggunaannya berkaitan dengan pengendalian penyakit pada unggas.

“Secara historis, penggunaan feed additive pertama kali banyak dikaitkan dengan upaya mengendalikan koksidiosis. Salah satu contohnya adalah penggunaan nicarbazin yang dicampurkan ke dalam pakan. Sebelumnya, pengendalian koksidiosis lebih banyak dilakukan melalui pemberian obat lewat air minum”.

Seiring perkembangan industri, jenis dan tujuan penggunaan dari feed additive pun semakin beragam. Feed additive sejak awal tidak semata-mata diciptakan untuk mengejar pertumbuhan ayam. Ia berkembang mengikuti persoalan yang dihadapi industri. Ketika masalah yang harus diselesaikan berubah, kebutuhan terhadap jenis additive tertentu pun ikut berubah.

“Semakin hari, industri perunggasan semakin mengenal penggunaan berbagai feed additive lain, seperti antioksidan dan mycotoxin binder. Artinya, keberadaan feed additive sebenarnya sudah lama melekat pada sistem produksi unggas, meskipun perhatian terhadapnya belum sebesar sekarang. Perubahan besar kemudian datang ketika penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) mulai ditinggalkan,” jelasnya.

Hal tersebut diamini oleh Desianto Budi Utomo selaku Vice President PT Charoen Pokphand Indonesia. Menurutnya perkembangan penggunaan feed additive berlangsung sangat pesat terutama dalam satu dekade terakhir, seiring dengan perubahan kebijakan penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan. 

“Perkembangan penggunaan feed additive sangat pesat sekali, terutama 10 tahun terakhir atau semenjak dilarangnya penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan atau AGP,” ujar Desianto secara tertulis pada Rabu, (19/8).

Menurutnya, sejak pelarangan tersebut, industri mulai menelusuri berbagai jenis feed additive yang dapat mengambil sebagian fungsi yang sebelumnya diperoleh dari AGP. Enzim, acidifier, probiotik, prebiotik, maupun kombinasi beberapa bahan mulai banyak berkembang. Ia juga menyampaikan bahwa ada pengaruh penggunaan feed additive terhadap efisiensi produksi.

“Ketika nutrien dalam pakan dapat dimanfaatkan dengan lebih baik, peluang untuk memperoleh performa yang optimal juga semakin besar. Pengaruh pemakaian feed additive. dalam meningkatkan efisiensi pakan sangatlah besar, baik melalui peningkatan kecernaan ataupun meningkatkan utilisasi nutrien yang ada di dalamnya,” jelasnya.

Desianto menyebut kontribusi pakan dapat mencapai sekitar 70–75% dari total biaya pemeliharaan ayam. Namun, efisiensi tidak berhenti pada persoalan biaya pakan. Menurutnya, kesehatan saluran pencernaan menjadi bagian penting karena usus merupakan lokasi utama terjadinya proses pencernaan dan penyerapan nutrien.

“Jika ususnya tidak berkembang sehat atau mengalami kerusakan, maka akan menurunkan kemampuan mencerna maupun menyerap zat nutrisi yang ada dalam pakan,” ungkapnya.

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Laporan Utama pada majalah Poultry Indonesia edisi Oktober 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Oktober 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.