Logistik perunggasan Indonesia membutuhkan sistem yang terintegrasi untuk menjembatani kesenjangan waktu, lokasi, suhu, dan biaya di sepanjang rantai pasok
Apabila mendengar kata “logistik”, banyak dari kita masih mengira bahwa ranah bidang ini sebatas mengangkut barang dari satu tempat ke tempat lain. Namun menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), logistik sebenarnya punya cakupan yang lebih luas. Logistik adalah pengadaan, perawatan, distribusi, hingga penyediaan perlengkapan, perbekalan, dan tenaga kerja. 
Tak hanya itu, dalam Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2012 tentang Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional, cakupan logistik diuraikan dengan lebih rinci. Logistik digambarkan sebagai bagian dari rantai pasok yang mengatur arus barang, informasi, dan uang, mulai dari pengadaan (procurement), penyimpanan (warehousing), transportasi (transportation), distribusi (distribution), sampai layanan pengantaran (delivery services). Semua proses ini harus berjalan sesuai jenis, kualitas, jumlah, waktu, dan tempat yang dibutuhkan konsumen, dengan cara yang aman, efektif, dan efisien, dari titik asal hingga titik tujuan.
Dalam industri perunggasan, logistik dapat diibaratkan sebagai garis penghubung yang merangkai rantai pasok panjang menjadi satu kesatuan yang utuh, khususnya pada dua komoditas unggas komersial, yakni ayam pedaging (broiler) dan ayam petelur (layer). 
Pada bagian hulu, sarana produksi seperti bahan baku pakan, pakan jadi, DOC (day-old chick), hingga perlengkapan produksi lainnya diproduksi agar proses pemeliharaan dapat berjalan. Di bagian hilir, setelah ayam broiler selesai dipelihara, arusnya berlanjut ke tahap pengangkutan ayam hidup menuju rumah potong, penyimpanan di gudang pendingin, lalu pendistribusian. Sementara pada layer, setelah masa pemeliharaan, rantainya berlanjut ke pengumpulan, pengemasan, dan distribusi telur. 
Karena rantai perunggasan ini panjang dan saling terhubung, gangguan pada satu titik dapat merambat ke titik-titik lainnya. Sebaliknya, logistik yang lancar membuat produksi bisa berjalan tanpa hambatan. Kelancaran ini pada akhirnya membuat industri perunggasan secara keseluruhan menjadi lebih efisien dan berdaya saing, sekaligus menekan biaya tidak perlu yang timbul sehingga tidak dibebankan ke margin pelaku usaha atau pada harga jual di ujung rantai.
Komponen Penopang Sistem Logistik
Menurut Prof. Dr. Tomy Perdana, S.P., M.M., Guru Besar di bidang Logistik Agribisnis Universitas Padjadjaran, sistem logistik yang baik ditopang oleh empat komponen yang saling berkaitan, yakni infrastruktur, layanan logistik, aktor (pelaku usaha), dan governance atau tata kelola. Keempat komponen tersebut mencakup infrastruktur fisik seperti jalan, pelabuhan, gudang, dan bandara; layanan transportasi, pergudangan, dan rantai dingin; aktor di sepanjang rantai pasok; serta regulasi dan kebijakan sebagai tata kelola. Ketika keempatnya berjalan selaras, efisiensi logistik dapat tercapai.
Namun, kerangka ideal ini belum sepenuhnya terwujud di sektor perunggasan Indonesia. Perhatian terhadap logistik baru beberapa tahun terakhir mendapat tempat lebih jelas dalam kebijakan pemerintah, termasuk melalui penguatan sistem logistik pangan dan cold chain (rantai pendingin).
“Perubahan juga terlihat pada tingkat kebijakan nasional melalui Peraturan Presiden No. 41 Tahun 2026 tentang Penguatan Sistem Logistik Nasional, yang memberikan kerangka baru bagi pengembangan logistik nasional dan memasukkan cold chain sebagai bagian dari penguatan sistem tersebut,” ujar Tomy dalam diskusi secara daring, Sabtu (29/8).
Kerangka kebijakan ini penting karena tantangan logistik tidak hanya dihadapi oleh pelaku usaha secara individu, tetapi juga menyangkut keterhubungan antarwilayah. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki lokasi produksi dan konsumsi yang tidak selalu berada di daerah yang sama. Produksi pakan hingga fasilitas cold chain sampai saat ini masih terkonsentrasi di Jawa. Di sisi lain, persoalan efisiensi juga berkaitan dengan pemilihan moda transportasi. Sistem multimoda yang menggabungkan kereta api, truk, dan angkutan laut perlu dirancang dengan mempertimbangkan jarak, biaya, waktu, dan potensi kehilangan produk selama pengiriman.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Laporan Utama pada majalah Poultry Indonesia edisi September 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.