Oleh : Budi Tangendjaja*
Perubahan genetika telah mengubah kemampuan produksi ayam modern, sehingga formulasi pakan pun dituntut semakin presisi dalam menerjemahkan kebutuhan nutrien menjadi performa optimal.
Nutrient Requirements of Poultry edisi ke-10 diterbitkan oleh National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine pada tahun 2026. Laporan konsensus ini memperbarui rekomendasi setelah lebih dari tiga dekade dan menempatkan kebutuhan gizi dalam kerangka produksi modern, kecernaan nutrien, pemodelan biologis, serta tingkat keyakinan bukti. Uraian berikut merangkum implikasi utamanya bagi perubahan genetika ayam, dasar perhitungan kebutuhan, broiler, dan layer.
Perubahan Genetika Ayam
Penerbitan Nutrient Requirements of Poultry edisi revisi ke-10 pada 2026 merupakan pembaruan besar setelah NRC 1994. Selama selang 31 tahun, seleksi genetik, manajemen, kesehatan, lingkungan kandang, dan teknologi pakan telah mengubah kemampuan biologis ayam. Broiler modern mencapai bobot pasar lebih cepat, dengan pertumbuhan jaringan dan efisiensi pakan yang jauh lebih tinggi. Layer modern mulai bertelur dengan tubuh relatif ringan, menghasilkan telur lebih banyak, mempertahankan produksi lebih lama, dan harus menjaga mutu kerabang sampai akhir siklus. Perubahan ini membuat angka kebutuhan lama tidak selalu tepat bila diterapkan langsung pada genotipe masa kini.
Seleksi pada broiler terutama diarahkan pada laju pertumbuhan, konversi pakan, hasil karkas, dan proporsi daging dada. Konsekuensinya, pola deposisi protein dan lemak berubah menurut bobot badan. Kebutuhan energi dan asam amino pada seekor broiler tidak hanya ditentukan oleh umur, tetapi oleh besarnya jaringan yang sedang dibentuk. Dua ayam dengan umur sama dapat mempunyai kebutuhan berbeda apabila strain, jenis kelamin, bobot, suhu lingkungan, atau kecepatan tumbuhnya berbeda. Karena itu NRC 2026 menyajikan rekomendasi broiler berdasarkan kisaran bobot badan, bukan fase umur yang kaku.
Kemajuan genetik juga meningkatkan pentingnya keseimbangan zat gizi. Kekurangan satu asam amino esensial dapat membatasi pemanfaatan asam amino lain, menurunkan pertumbuhan, dan meningkatkan ekskresi nitrogen. Sebaliknya, pemberian protein atau mineral secara berlebihan tidak otomatis memperbaiki performa dan dapat menaikkan biaya serta beban lingkungan. Formulasi modern perlu menyediakan jumlah nutrien yang sesuai dengan potensi deposisi jaringan, bukan sekadar memenuhi persentase protein kasar. Di sinilah konsep protein ideal dan asam amino tercerna ileal standar menjadi semakin relevan.
Pada layer, perubahan genetik terlihat pada tingginya persistensi produksi, massa telur harian, dan panjang siklus bertelur. Ayam harus membagi nutrien untuk pemeliharaan tubuh, pembentukan albumen dan kuning telur, serta mineralisasi kerabang. Ketika bobot dan massa telur berubah, kebutuhan harian asam amino juga berubah. Sementara itu, kebutuhan kalsium cenderung meningkat pada periode lanjut karena ukuran telur bertambah dan efisiensi penyerapan atau penggunaan kalsium dapat menurun. Oleh sebab itu NRC 2026 mengelompokkan rekomendasi menurut kondisi produksi—menuju puncak, puncak, dan lewat puncak—bukan semata-mata umur kronologis.
Genetika tidak bekerja sendiri. Potensi genetik hanya tercapai apabila kualitas anak ayam atau pullet, kesehatan usus, suhu, kepadatan, pencahayaan, air minum, dan bentuk fisik pakan mendukung konsumsi dan penggunaan nutrien. Dalam iklim tropis, cekaman panas menurunkan konsumsi pakan sehingga konsentrasi nutrien per kilogram ransum mungkin perlu dinaikkan agar kebutuhan harian tetap terpenuhi. Dengan demikian, nilai NRC merupakan titik awal ilmiah yang perlu diterjemahkan ke dalam matriks formulasi sesuai strain, target produksi, dan kondisi lapangan.
Dasar Perhitungan Kebutuhan Gizi
NRC 2026 membedakan kebutuhan biologis dari spesifikasi praktis ransum. Nilai dalam laporan pada dasarnya merupakan tingkat minimum yang mendukung produksi optimal dan mencegah gejala defisiensi pada kondisi penelitian. Nilai tersebut belum otomatis mencakup margin pengaman untuk variasi bahan baku, kesalahan penimbangan dan pencampuran, kehilangan selama penyimpanan, cekaman penyakit atau panas, serta variasi antarflok. Ahli nutrisi perlu menambahkan margin pengaman secara rasional, bukan menaikkan semua nutrien tanpa dasar.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Opini pada majalah Poultry Indonesia edisi Oktober 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Oktober 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.