Di tengah berbagai tantangan kesehatan unggas modern, seperti avian influenza, Newcastle disease, dan kolibasilosis, terdapat satu penyakit yang relatif jarang dibahas namun memiliki dampak serius terhadap kesehatan unggas dan bahkan kesehatan masyarakat, yaitu avian tuberculosis /avian mycobacteriosis  atau yang dikenal sebagai tuberkulosis unggas. Penyakit ini bersifat kronis, berkembang perlahan, dan sering kali tidak terdeteksi hingga berada pada tahap lanjut, sehingga berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan pada peternakan.
Ketika performa ayam menurun, produksi telur berkurang, atau beberapa ekor unggas tampak semakin kurus tanpa penyebab yang jelas, perhatian peternak biasanya tertuju pada penyakit yang umum ditemukan seperti kolibasilosis atau Newcastle disease. Namun, terdapat satu penyakit kronis yang sering luput dari perhatian karena berkembang sangat lambat, yaitu avian tuberculosis / avian mycobacteriosis.
Penyakit ini terutama disebabkan oleh Mycobacterium avium subsp. avium, bakteri yang dapat menginfeksi hampir seluruh jenis burung, mulai dari ayam, kalkun, unggas air, merpati, hingga burung hias dan satwa liar. Salah satu alasan mengapa mycobacteriosis sulit dikendalikan adalah kemampuan bakteri penyebabnya untuk bertahan hidup lama di lingkungan.
Penularan penyakit umumnya terjadi melalui konsumsi pakan atau air yang tercemar feses unggas terinfeksi. Burung liar dan unggas carrier juga berperan penting sebagai reservoir penyakit. Selain itu, peralatan kandang, alas kaki pekerja, litter yang tercemar, hingga sistem pemeliharaan multiumur dapat meningkatkan risiko penyebaran infeksi.
Berbeda dengan penyakit akut yang berkembang cepat, avian tuberculosis / avian mycobacteriosis bersifat kronis dan progresif. Gejala klinis sering kali tidak spesifik sehingga mudah terlewatkan. Unggas yang terinfeksi biasanya menunjukkan penurunan berat badan secara bertahap, tubuh kurus (emaciation), kelemahan, diare kronis, anemia, serta penurunan produksi telur. Pada beberapa kasus dapat ditemukan gangguan pernapasan, pembengkakan di sekitar mata. Pada stadium lanjut, infeksi dapat menyebabkan kegagalan fungsi organ dan berakhir dengan kematian. Lesi khas penyakit ini dapat ditemukan saat nekropsi. Organ seperti usus, hati, dan limpa sering menunjukkan adanya granuloma atau nodul berwarna putih kekuningan yang menyerupai tuberkel. Hati dan limpa biasanya mengalami pembesaran akibat terbentuknya jaringan granulomatosa. Pada kasus tertentu, lesi juga dapat ditemukan pada sumsum tulang, paru-paru, kulit, maupun mata.
Avian tuberculosis / Avian mycobacteriosis menjadi salah satu ancaman yang tidak boleh diabaikan. Sifatnya yang kronis, sulit dikenali, mampu bertahan lama di lingkungan yang menjadi salah satu tantangan tersembunyi dalam industri perunggasan tradisional maupun modern. Kewaspadaan dan deteksi dini menjadi kunci untuk menjaga kesehatan flock dan keberlanjutan usaha peternakan.
REFERENSI
Abd El-Ghany, W. A. (2022). A review of avian mycobacteriosis: An emerging bacterial disease of public health concern. International Journal of One Health, 8(2), 70–75. https://doi.org/10.14202/IJOH.2022.70-75
Sattar, A., Zakaria, Z., Abu, J., Aziz, S. A., & Rojas-Ponce, G. (2021). Isolation of Mycobacterium avium and other nontuberculous mycobacteria in chickens and captive birds in peninsular Malaysia. BMC Veterinary Research, 17, Article 13. https://doi.org/10.1186/s12917-020-02695-8
Tsiouris, V., Kiskinis, K., Mantzios, T., Dovas, C. I., Mavromati, N., Filiousis, G., Brellou, G., Vlemmas, I., & Georgopoulou, I. (2021). Avian mycobacteriosis and molecular identification of Mycobacterium avium subsp. avium in racing pigeons (Columba livia domestica) in Greece. Animals, 11(2), 291. https://doi.org/10.3390/ani11020291
World Organisation for Animal Health. (2024). Avian tuberculosis. In WOAH terrestrial manual 2024 (Chapter 3.3.6). World Organisation for Animal Health. https://www.woah.org