Kelembapan, suhu hingga kualitas air menjadi hal yang perlu diperhatikan selama musim hujan. Ketelitian membaca perubahan lingkungan menjadi kunci menjaga kesehatan dan performa broiler.
Fenomena El Niño yang menyebabkan kemarau panjang kerap menjadi perhatian sepanjang tahun ini. Dampaknya tidak hanya ramai diperbincangkan di berbagai kanal media, tetapi juga dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Namun, sebagai negara beriklim tropis, Indonesia tetap akan menghadapi siklus musim hujan dan musim kemarau.
Berdasarkan rilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mulai memasuki musim hujan pada November dan Desember 2026. Musim hujan diperkirakan diawali dari wilayah Sumatera bagian utara, kemudian bergerak secara bertahap ke wilayah Indonesia lainnya. Sementara itu, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami puncak musim hujan pada Desember 2026, Januari 2027, dan Februari 2027.
Bagi peternak, musim hujan membawa sejumlah tantangan, mulai dari meningkatnya kelembapan, penurunan suhu, hingga risiko infeksi dan menurunnya kualitas air. Manajemen kandang yang adaptif, pengendalian lingkungan, serta pemantauan kesehatan ayam menjadi kunci untuk menjaga performa dan menekan potensi kerugian.
Waspada Musim Hujan Tiba

Musim hujan menyebabkan kelembapan lingkungan meningkat. Udara yang lembap dan dingin tidak hanya membuat ayam kurang nyaman, tetapi juga menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan mikroorganisme patogen, seperti bakteri, virus, dan jamur.
Kelembapan tinggi di dalam kandang membuat litter lebih cepat basah dan menggumpal. Kondisi tersebut dapat mempercepat pembentukan amonia dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Kelembapan juga berkontribusi terhadap peningkatan indeks heat stress, sehingga ayam tetap berpotensi mengalami stres meskipun suhu udara relatif rendah.
Penurunan suhu selama musim hujan juga dapat memicu cold stress, terutama pada ayam dalam fase brooding (umur 0–14 hari). Ayam muda belum mampu mengatur suhu tubuh secara optimal. Paparan udara dingin dapat menyebabkan suhu tubuh turun di bawah kisaran normal, yakni 40–40,8°C.
Ayam yang mengalami stres dingin biasanya menunjukkan penurunan aktivitas makan dan cenderung bergerombol untuk mempertahankan suhu tubuh. Kondisi ini dapat membuat konsumsi pakan tidak mencapai target, menghambat perkembangan organ, dan mengganggu sistem kekebalan tubuh. Dalam kondisi ekstrem, stres dingin juga dapat memicu komplikasi seperti hydropericardium atau ascites.
Curah hujan yang tinggi juga dapat memengaruhi kualitas air tanah. Genangan dan peningkatan volume air tanah berpotensi membuat air sumur menjadi keruh, berbau, serta tercampur partikel organik atau lumpur. Kondisi tersebut dapat mendorong terbentuknya biofilm di dalam pipa saluran air minum yang menjadi tempat berkembangnya bakteri patogen, seperti E. coli dan Salmonella sp.
Air yang tercemar meningkatkan risiko penularan penyakit, salah satunya kolibasilosis. Risiko tersebut semakin besar apabila sumber air berada dekat dengan tumpukan feses, sawah, atau sistem sanitasi yang kurang baik.
Kelembapan tinggi selama musim hujan juga perlu diwaspadai dalam penyimpanan pakan. Pakan yang disimpan dalam kondisi lembap lebih mudah ditumbuhi jamur, termasuk Aspergillus, yang dapat menghasilkan mikotoksin.
Pertumbuhan jamur tidak hanya menurunkan palatabilitas pakan, tetapi juga dapat menyebabkan gangguan kesehatan, seperti aspergilosis dan gangguan metabolisme akibat racun jamur (mikotoksikosis). Pada akhirnya, kondisi tersebut dapat berdampak terhadap pertumbuhan dan performa produksi ayam broiler.
Perhatikan Manajemen Pemeliharaan
Suhu dan kelembapan lingkungan menjadi dua parameter yang perlu dipantau secara lebih ketat ketika musim hujan. Untuk itu, recording atau pencatatan kondisi kandang perlu dilakukan secara konsisten sebagai dasar dalam menentukan adjustment manajemen.
Pada sistem closed house, peternak dapat menyesuaikan manajemen ventilasi melalui pengaturan kipas, inlet, maupun outlet. Sementara pada kandang open house, pengaturan buka-tutup tirai dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan.








