POULTRYINDONESIA, JAKARTA — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membawa peluang besar bagi penguatan konsumsi protein nasional. Dengan kebutuhan makanan bergizi yang terstruktur dan berskala besar, program ini berpotensi menjadi anchor demand bagi produk peternakan dalam negeri, khususnya telur dan daging ayam.
Namun, di balik peluang tersebut, terdapat persoalan yang tidak kalah penting: siapa yang akan memastikan sumber protein untuk MBG tetap tersedia secara berkelanjutan? Bagi Perhimpunan Peternak Rakyat Indonesia (PERMINDO), keberhasilan MBG tidak cukup diukur dari jumlah porsi makanan yang tersalurkan. Program tersebut juga harus mampu menciptakan ekosistem yang menjaga produsen protein tetap bertahan.
Telur dan daging ayam merupakan sumber protein penting bagi masyarakat sekaligus menjadi sumber penghidupan jutaan pelaku usaha peternakan. Karena itu, peningkatan konsumsi protein melalui MBG harus berjalan beriringan dengan kebijakan yang memberikan kepastian bagi peternak untuk terus berproduksi.
“Kita tidak boleh mempertentangkan kepentingan perbaikan gizi anak dengan kepentingan peternak. Keduanya justru satu kesatuan. Anak-anak Indonesia membutuhkan protein untuk membangun generasi masa depan, sementara protein tersebut diproduksi oleh peternak. Karena itu, program gizi nasional harus berjalan bersamaan dengan kebijakan yang menjaga keberlangsungan peternak,” ujar Kusnan, Ketua Umum PERMINDO melalui keterangan tertulis, Selasa (11/7).
Kusnan menilai kondisi harga unggas saat ini menunjukkan adanya persoalan yang perlu segera dibenahi. Harga ayam ras pedaging atau livebird kini berada di sekitar Rp25.000 per kilogram, mendekati harga acuan pemerintah (HAP).
Kondisi berbeda masih dirasakan peternak ayam petelur. Harga telur dilaporkan berada di sekitar Rp21.000 per kilogram, sementara HAP telur di tingkat produsen ditetapkan sebesar Rp26.500 per kilogram. Pada saat yang sama, harga pakan, bibit, energi, tenaga kerja, dan berbagai komponen biaya produksi masih tinggi.
Situasi tersebut menjadi persoalan tersendiri ketika MBG mulai menciptakan kebutuhan protein dalam jumlah besar. Sebab, meningkatnya permintaan tidak otomatis menjamin peternak memperoleh harga yang layak.
Dirinya melihat pengalaman broiler menunjukkan pentingnya keseimbangan supply-demand. Harga livebird yang sebelumnya sempat terpuruk hingga sekitar Rp13.000 per kilogram kini bergerak mendekati HAP setelah terjadi penyesuaian pasokan dan populasi.
“Pelajaran dari broiler sangat jelas. Ketika supply-demand dikelola dan pasokan kembali seimbang, harga produsen dapat membaik. Pertanyaannya, mengapa pengelolaan supply-demand seperti ini belum menjadi sistem permanen untuk seluruh subsektor peternakan?” katanya. Dirinya menambahkan, persoalan tersebut tidak boleh berhenti pada harga telur hari ini. Yang sedang dipertaruhkan adalah keberlanjutan produksi protein nasional.

Sementara itu, Heri Irawan Sekjend PERMINDO melihat bahwa MBG sebenarnya dapat menjadi momentum untuk membangun rantai pasok protein yang lebih terstruktur. Namun, pasar yang besar harus dibangun dengan mekanisme yang sehat.
Pemerintah perlu memastikan seluruh mata rantai berjalan secara beriringan: produksi mencukupi, pasar tersedia, harga produsen layak, peternak mampu bertahan, dan produksi dapat berlangsung secara berkelanjutan.
“Jika salah satu mata rantai tersebut putus, tujuan besar MBG juga akan menghadapi persoalan. Jangan sampai negara berhasil menciptakan demand protein melalui MBG, tetapi pada saat yang sama peternak sebagai produsen tidak mendapatkan harga yang layak untuk mempertahankan produksinya,” ujar Heri.
Lebih lanjut, dirinya juga menyoroti implementasi penyerapan telur untuk kebutuhan MBG. Dalam dokumen Komitmen Bersama Penyerapan Telur dan Daging Ayam dalam Program Makan Bergizi Gratis di Jawa Tengah pada 19 Juni 2026, terdapat komitmen transaksi telur sebesar Rp26.000 per kilogram, dengan peningkatan secara bertahap mengikuti HAP pemerintah.
Namun, berdasarkan laporan peternak yang diterima PERMINDO, di lapangan masih terdapat penyerapan telur untuk MBG pada kisaran Rp21.000 per kilogram. Jika kondisi tersebut terjadi, terdapat kesenjangan antara komitmen, kebijakan, dan implementasi.
“Kalau pemerintah sudah menetapkan HAP dan sudah ada komitmen harga dalam program MBG, maka yang harus dipastikan adalah harga tersebut benar-benar sampai kepada peternak. Jangan sampai harga berhenti di tengah rantai pasok,” tegas Heri.
Karena itu, PERMINDO meminta pemerintah mengevaluasi secara transparan rantai pengadaan telur MBG, mulai dari harga pembelian di tingkat SPPG, pemasok atau koperasi, biaya distribusi, hingga harga bersih yang benar-benar diterima peternak.
Bagi PERMINDO, tujuan MBG jauh lebih besar daripada sekadar menyediakan makanan. Program ini merupakan investasi negara untuk memperbaiki status gizi anak-anak Indonesia dan membangun generasi masa depan yang lebih sehat, produktif, dan berkualitas.
Karena itu, keseimbangan pasokan dan kebutuhan protein nasional harus menjadi bagian dari desain MBG. Ketersediaan daging dan telur harus dijaga. Harga harus tetap terjangkau masyarakat. Namun, pada saat yang sama, harga di tingkat produsen harus memberikan ruang bagi peternak untuk bertahan dan berkembang.
“Kita ingin dua tujuan besar berjalan bersamaan: anak-anak Indonesia mendapatkan gizi yang lebih baik untuk membangun generasi masa depan, dan peternak rakyat tetap mampu bertahan, berkembang, serta berproduksi secara berkelanjutan,” kata Heri.
Jika peternak terus mengalami kerugian, populasi dapat berkurang dan investasi peternakan terhenti. Pada akhirnya, kondisi tersebut dapat mengganggu pasokan protein nasional. Tanpa peternak yang sehat secara ekonomi, tidak ada jaminan sumber protein yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk kebutuhan MBG.
Karena itu, bagi PERMINDO, MBG tidak boleh hanya menjadi program untuk menciptakan demand. Program tersebut juga harus menjadi bagian dari sistem yang memastikan supply protein nasional tetap kuat.
“Anak-anak membutuhkan protein hari ini. Namun, agar protein tersebut tetap tersedia besok, peternak juga harus mampu bertahan hari ini,” tegasnya.
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Poultry Indonesia










