POULTRYINDONESIA, Jakarta – PT Malindo Feedmill Tbk (Malindo) menyampaikan laporan kinerja keuangan dan strategi bisnis dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa (RUPST) yang digelar di Jakarta, pada Senin, (25/4/2026). Di tengah tekanan global yang masih membayangi industri perunggasan, perusahaan mencatat sejumlah pencapaian positif dan menyiapkan langkah ekspansi untuk tahun ini.
Sepanjang tahun 2025, Malindo membukukan penjualan bersih sebesar Rp12,69 triliun, naik 1,52% dibanding tahun 2024 sebesar Rp12,50 triliun. Pertumbuhan penjualan ini terutama ditopang oleh kenaikan penjualan ayam pedaging sebesar 18,75%, makanan olahan sebesar 12,94%, serta segmen lain-lain sebesar 6,12%.
Dari sisi profitabilitas, laba bersih tahun 2025 tercatat sebesar Rp393,59 miliar, turun 19,34% dibandingkan Rp487,96 miliar pada 2024. Penurunan ini sejalan dengan tekanan pada laba kotor yang turun 16,96% menjadi Rp1,29 triliun, serta laba usaha yang terkoreksi 25,02% menjadi Rp569,06 miliar. Dari sisi neraca, total aset perusahaan tumbuh 6,03% menjadi Rp5,70 triliun, dengan total ekuitas sebesar Rp2,88 triliun.
Memasuki 2026, kinerja perusahaan menunjukkan pemulihan. Pada kuartal pertama, penjualan bersih mencapai Rp3,69 triliun, naik 16,61% dibanding periode yang sama tahun lalu. Segmen DOC mencatat lonjakan tertinggi, yakni 69,20%, dari Rp477,77 miliar menjadi Rp808,39 miliar. Pakan ternak turut tumbuh 10,92%, sementara makanan olahan naik 16,81%.
Yang paling menonjol, laba bersih kuartal I 2026 melonjak 96,05% menjadi Rp123,28 miliar, dari sebelumnya Rp62,88 miliar pada kuartal I 2025. Faktor utama kenaikan ini adalah stabilnya harga DOC dan broiler di pasar.
Direktur Malindo, Rudy Hartono, dalam sesi tanya jawab menyatakan optimismenya terhadap keseluruhan tahun 2026. Meski ia mengakui perusahaan masih menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya fluktuasi harga live bird dan DOC, volatilitas harga bahan baku, serta pelemahan nilai tukar rupiah yang berdampak pada kenaikan harga soybean meal (SBM) sebagai bahan baku utama.
“Kami sangat optimistis 2026 ini akan menjadi tahun yang baik. Q1 jauh lebih baik dibanding Q1 tahun lalu dan harapannya Q2 juga akan lebih baik, terlebih pemerintah sangat support terhadap kondisi industri,” ujarnya.
Dalam RUPST, para pemegang saham menyetujui pembagian dividen sebesar Rp52 per lembar saham. Perusahaan juga menetapkan anggaran belanja modal (capex) sebesar Rp700–800 miliar untuk tahun 2026, yang akan difokuskan pada pengembangan feedmill, breeding, dan sektor broiler.
Salah satu proyek utama adalah pembangunan satu unit feedmill baru di Lampung, yang ditargetkan rampung pada kuartal ketiga 2026. Hingga pertengahan tahun ini, realisasi capex telah mencapai sekitar 30%.
“Kondisi eksternal memang berubah sangat cepat, tetapi kami bersyukur pemerintah cukup support terhadap industri. Karena itu secara keseluruhan kami masih optimistis terhadap perkembangan industri poultry ke depan,” pungkas Rudy.
Masih dalam kesempatan yang sama, Rewin Hanrahan selaku Direktur Malindo mengatakan perusahaan merespons berbagai tekanan yang ada dengan serangkaian langkah efisiensi. Salah satunya adalah peralihan ke energi terbarukan melalui pemasangan panel surya di sejumlah unit operasional.
“Kalau bicara biaya, yang paling besar itu energi. Karena itu kami mulai melakukan instalasi panel surya di beberapa unit usaha kami untuk menekan biaya operasional. Selain itu, kami juga mendorong otomatisasi dan digitalisasi proses bisnis,” katanya.
Terkait dampak ketegangan geopolitik global, termasuk isu penutupan Selat Hormuz, Rewin menilai pengaruhnya terhadap pasokan bahan baku perusahaan masih relatif terbatas.
Rewin juga menyoroti dampak positif program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah. Menurutnya, program tersebut turut membantu menjaga keseimbangan supply dan demand di pasar unggas, sehingga harga menjadi lebih stabil terutama bagi peternak rakyat dan UMKM mitra perusahaan.