Memasuki triwulan keempat 2026, fenomena El Niño semakin menguat dan mulai meningkatkan risiko panas ekstrem serta kekeringan panjang di berbagai belahan dunia. Kondisi ini tentu akan memengaruhi berbagai sektor termasuk perunggasan.
Berdasarkan data National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), anomali suhu permukaan laut di kawasan Niño 3.4 telah mencapai 3,05°C di atas rata-rata pada 19 September 2026. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak November 2015, ketika anomali suhu di kawasan yang sama mencapai sekitar 3,0°C.
El Niño sendiri merupakan fenomena pemanasan suhu air laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang kemudian memengaruhi pola angin dan curah hujan di berbagai wilayah dunia. Untuk memantau perkembangan dan kekuatan El Niño, salah satu wilayah yang paling sering diamati adalah kawasan Niño 3.4. Wilayah ini berada di bagian tengah Samudra Pasifik khatulistiwa dan menjadi acuan dalam melihat perubahan suhu permukaan laut yang berkaitan dengan fenomena El Niño, termasuk yang berdampak pada pola cuaca di Asia Tenggara. Sejumlah badan meteorologi, termasuk BMKG di Indonesia dan PAGASA di Filipina, serta pusat pemantauan iklim global seperti NOAA dan BOM, juga menggunakan data Niño 3.4 sebagai salah satu acuan dalam penghitungan Oceanic Niño Index (ONI).
Namun demikian, kekuatan El Niño tidak selalu sama. Fenomena yang sedang berlangsung saat ini bahkan mulai disebut sebagai “Super El Niño” dalam beberapa media massa. Berdasarkan kekuatannya, NOAA melalui Climate Prediction Center (CPC) mengategorikan El Niño menjadi empat tingkat, yakni lemah (weak), sedang (moderate), kuat (strong), dan sangat kuat (very strong). Apabila anomali suhu mencapai minimal 2°C di atas normal, kondisi ini masuk dalam kategori sangat kuat.
Perlu diketahui, bahwa istilah “Super El Niño” sendiri bukan merupakan kategori resmi NOAA maupun World Meteorological Organization (WMO), sehingga kondisi El Niño dalam pemantauan baru-baru ini tetap secara resmi disebut sebagai El Niño kategori sangat kuat.
Pemantauan dalam beberapa bulan terakhir memang menunjukkan bahwa El Niño masih terus menguat dan diperkirakan mencapai puncaknya menjelang akhir 2026. Bagi Asia Tenggara, penguatan tersebut dapat meningkatkan risiko periode panas dan kekeringan yang lebih panjang serta curah hujan yang lebih rendah di sejumlah wilayah. Kondisi ini kemudian dapat memengaruhi berbagai sektor yang bergantung pada ketersediaan air dan kondisi cuaca, termasuk perunggasan.
Mitigasi Perunggasan Asia Tenggara
Bagi industri perunggasan, ancaman panas dan kekeringan tidak bisa diabaikan. Suhu kandang yang meningkat membuat ayam lebih banyak minum dan mengurangi konsumsi pakan. Apabila kondisi ini berlangsung lama, pertumbuhan ayam pedaging dapat terganggu, produksi telur menurun, dan kebutuhan energi untuk mendinginkan kandang juga meningkat. Selain itu, curah hujan yang rendah dapat memengaruhi ketersediaan air, produksi jagung, hingga pasokan bahan baku pakan lainnya.
Situasi tersebut membuat kesiapan di tingkat peternakan menjadi semakin penting. Peternak perlu memastikan ketersediaan air, sistem pendinginan dan listrik tetap berjalan, serta pasokan pakan tetap aman selama periode panas dan kekeringan panjang berlangsung. Lantas, sejauh mana peternak dan industri perunggasan di Asia Tenggara telah mempersiapkan diri menghadapi El Niño yang semakin kuat ini?
Kesiapan menghadapi kondisi tersebut di Asia Tenggara masih belum seragam. Sebagian peternak memang sudah menyiapkan infrastruktur kandang closed house dan menyiapkan cadangan pakan. Namun, sebagian lain masih mengandalkan sistem kandang dan peralatan yang lebih sederhana.
Di Malaysia, peternak yang menggunakan kandang closed house telah lebih dulu mengandalkan cooling pad, exhaust fan, ventilasi tunnel, sensor suhu dan kelembapan, serta pengendali otomatis untuk menjaga kondisi kandang. Saat suhu lingkungan meningkat, sistem ventilasi akan bekerja lebih tinggi dan cooling pad digunakan untuk membantu menurunkan suhu di dalam kandang.
Namun, tidak sedikit pula peternak yang masih menggunakan sistem open house dalam usaha budi dayanya. Dalam keterangannya kepada media nasional, Kamis (18/9), Prof. Zulkifli Idrus dari Universiti Putra Malaysia, mengatakan bahwa ayam rentan terhadap paparan panas berkepanjangan karena tidak dapat berkeringat seperti manusia, sehingga jika dibesarkan pada kandang open house, peternak perlu lebih memerhatikan soal ventilasi, kipas, shading (peneduh), ketersediaan air, hingga kepadatan kandang.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Internasional pada majalah Poultry Indonesia edisi Oktober 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Oktober 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.