Dok. Hans Prices (Poultry World)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Industri perunggasan nasional membuka tahun 2026 dengan berita menggembirakan. Hingga Maret 2026, ekspor produk unggas Indonesia tercatat mencapai 545 ton atau senilai Rp18,2 miliar, angka ini tercatat dalam data Kementan Kuartal Pertama 2026.
Telur konsumsi masih menjadi tulang punggung ekspor, dengan volume 517 ton atau setara 8,13 juta butir. Selebihnya berasal dari karkas ayam dan produk olahan unggas. Dalam suatu wawancara di Jakarta pada Minggu, (9/4/2026) Andi Amran Sulaiman selaku Menteri Pertanian menyampaikan bahwa angga ini bukan hanya mencerminkan kapasitas produksi.
“Ini bukti bahwa produksi unggas kita surplus dan mampu menembus pasar ekspor. Artinya, sektor ini semakin kompetitif, kedepannya pemerintah akan mendorong pelaku usaha untuk terus melakukan ekspor untuk mengurangi surplus dalam negeri,” jelas Andi Amran Sulaiman.
Pernyataan Menteri Pertanian itu bukan tanpa dasar. Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa produksi daging ayam ras nasional saat ini mencapai 4,29 juta ton per tahun, sementara konsumsi domestik berada di kisaran 4,12 juta ton. Untuk telur ayam ras, produksi mencapai 6,54 juta ton dengan konsumsi domestik sekitar 6,47 juta ton. Surplus inilah yang menjadi ruang gerak bagi pelaku usaha untuk memperluas pasar ke luar negeri.
Capaian awal 2026 ini bukan datang tiba-tiba. Tren ekspor unggas nasional menunjukkan pertumbuhan selama beberapa tahun terakhir. Pada 2024, volume ekspor berada di kisaran 300 ton dengan nilai Rp10–11 miliar. Angka itu naik ke sekitar 400 ton senilai Rp13–15 miliar pada 2025, dan kembali tumbuh signifikan di awal 2026 menjadi 545 ton.
Pertumbuhan angka ini menunjukan bahwa strategi industri perunggasan sudah terencana, mulai dari penguatan rantai produksi di hulu, peningkatan standar mutu dan biosekuriti, hingga diplomasi perdagangan yang membuka akses ke negara-negara tujuan baru, khususnya di kawasan Asia dan negara berkembang.
Yang menarik bukan hanya volume, tapi juga pergeseran struktur ekspor itu sendiri. Produk olahan seperti nugget dan karaage mulai mengambil porsi lebih besar dibandingkan produk mentah. Amran melihat ini bukan sekadar diversifikasi, ini perubahan posisi tawar Indonesia di pasar global.
“Kami dorong hilirisasi produk unggas agar tidak hanya ekspor bahan mentah, tetapi juga produk olahan yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Produk olahan tidak hanya menawarkan margin yang lebih tinggi, tetapi juga lebih tahan terhadap fluktuasi harga komoditas mentah. Bagi peternak dan pelaku industri hilir, ini membuka peluang yang lebih stabil”.
Di balik angka ekspor yang tumbuh, ada prasyarat teknis yang tidak bisa diabaikan. Pemerintah menegaskan komitmen untuk terus memperbaiki aspek-aspek manajemen, seiring dengan penguatan sektor hulu hingga hilir yang menjadi tulang punggung daya saing jangka panjang.
“Ke depan, kami optimistis ekspor unggas akan terus meningkat seiring dengan perbaikan kualitas dan standar produksi yang kita lakukan. Bagi pelaku industri, harusnya ekspor sudah bukan lagi dipandang sebagai alternatif cadangan ketika pasar domestik jenuh, tapi jadi salah satu strategi keseimbangan supply-demand,” ujar Amran.
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Poultry Indonesia