Dulu saya sempat protes, anak pulang sekolah kok harus ke resto ikut jualan. Tapi sekarang saya paham kenapa didikan orang tua seperti itu. Manfaatnya ternyata memang jangka panjang.”
Yuli Asmoro kini meneruskan usaha rintisan ibunya, Sriyati, yakni Rumah Makan Garang Asem Sari Rasa (GASASA), salah satu kuliner legendaris asal Kudus yang telah berdiri sejak 1977. Banyak dicari masyarakat setempat hingga wisatawan luar daerah, perjalanan menuju gelar ikon kuliner Kota Kretek itu tidak selalu mulus.
Selama puluhan tahun, keluarga kecil Yuli menjalankan usaha di sebuah kontrakan sebelum akhirnya berhasil dibeli pada 2007, tahun yang sama saat sang ayah berpulang. Momen itu menjadi salah satu titik paling emosional dalam perjalanan hidupnya.
“Ada sedihnya karena ditinggal Bapak, tapi juga ada leganya karena yang selama ini masih sewa akhirnya jadi milik sendiri. Setidaknya setelah itu kami sudah tidak kepikiran lagi soal biaya sewa tempat,” kenang Yuli ketika ditemui wartawan Poultry Indonesia di resto GASASA, Kudus, pada Kamis (7/5).
Meski pernah merasa keberatan karena harus membantu berjualan sepulang sekolah, Yuli kini justru merasa didikan keras orang tuanya dulu menjadi bekal penting hingga akhirnya ia mampu meneruskan rumah makan kondang tersebut.
“Alhamdulillah, perjuangan orang tua kami sekarang membuahkan hasil. Rumah makan ini sudah jadi ikon di Kudus. Bukan cuma warga lokal yang datang mencari, tamu dari luar kota pun kadang sengaja minta dibawakan masakan dari sini,” ujarnya.
Mempertahankan Resep Asli
Tidak serta-merta mahir mengelola restoran yang telah menyandang nama besar, Yuli harus belajar secara otodidak sejak usia belia. Ia memilih mengamati langsung cara sang ibu memasak di dapur, lalu mencatat setiap takaran bumbu yang digunakan agar cita rasa masakan tetap terjaga dan konsisten.
“Dari kecil, saya sudah belajar dari melihat Ibu masak. Dulu, Ibu masih memasak menggunakan feeling, jadi saya coba samakan ukuran takarannya lalu saya timbang sendiri,” tuturnya.
Selama kondisi kesehatannya masih prima, seluruh kontrol di dapur masih dipegang Ibu Sriyati. Namun Yuli sudah ikut terlibat dan membantu sejak lama, sehingga ketika kondisi kesehatan ibunya menurun, pengalihan tanggung jawab itu tidak membuatnya kaget. Tantangan justru datang bukan dari memasak, melainkan dari menjaga konsistensi rasa. 
“Waktu beralih ke saya, Ibu juga masih tetap pegang dapur dan semua masih pakai feeling. Lalu Ibu sakit, dan tanggung jawab itu pun berpindah sepenuhnya ke saya. Sejak saat itu saya mulai pakai gramasi, tapi ternyata masih ada perubahan juga. Karena memang benar-benar beda antara feeling dan timbangan, yang kemarin segini saya timbang, kok sekarang ditimbang lagi hasilnya beda,” tuturnya.
Yuli menyadari bahwa sekecil apapun perubahan bahan baku, bahkan dari merek garam sekalipun, dapat langsung mengubah rasa. Karena itu, ia tetap setia pada produk yang sama seperti yang digunakan ibunya dulu. Jika pun terpaksa beralih karena stok sedang susah, semua takaran harus melalui penyesuaian dari awal.
Selain bumbu, pemilihan ayam kampung pun tidak sembarangan. Menurutnya, tidak semua ayam kampung cocok untuk garang asem, karakter daging dan kaldunya sangat menentukan hasil akhir masakan. Yuli memilih ayam kampung kecil berusia 4–5 bulan, tidak terlalu tua, tidak pula terlalu muda.
“Kalau ayamnya sudah tua biasanya masaknya lama dan lebih berminyak. Warna kuahnya nanti tidak putih dan agak kuning, sehingga lebih cocok untuk opor atau soto. Kalau yang terlalu muda dagingnya gampang empuk, nanti tomatnya belum matang ayamnya sudah matang duluan,” katanya.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Profil pada majalah Poultry Indonesia edisi Juni 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juni 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.