Kegiatan rutin Diklat Medion pada tahun ini diselenggarakan pada 7 Maret 2018, bertempat di pabrik PT. Medion, Cimareme, Bandung. “Kami ingin membagikan ilmu bagaimana membuat keluarga bahagia, rukun, dan mengembangkan bisnis sampai ke cucu. Semoga bisa bermanfaat,” ungkap Jonas Jahja, Presiden Direktur PT. Medion yang didampingi istri, Amalia Jonas saat menyampaikan sambutan kepada peserta. “Saya berharap materi bisnis keluarga ini bisa menyenangkan dan semua bisa lebih dekat dengan Medion,” imbuh Amalia.
Sebelum sesi materi dimulai, peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia ini diajak untuk melihat “dapur” PT. Medion, mulai dari proses pembuatan hingga packaging produk. Tidak hanya itu, ada pula sesi perkenalan antar-peserta dengan dipandu Peter Yan selaku Corporate Communications and M&D Director PT. Medion yang berlangsung hangat.
Berbagi pengalaman
Jonas Jahja dan Amalia Jonas
Bisnis keluarga (family business) merupakan bisnis yang dijalankan dengan melibatkan anggota keluarga di jajaran board of directors atau komisaris maupun pada posisi lainnya. Di Indonesia, bisnis keluarga menyumbang 90-95 persen pendapatan suatu negara (GDP). Hal itu menunjukkan bisnis keluarga memberikan kontribusi ekonomi yang sangat signifikan. Sebagian besar pelanggan PT. Medion pun merupakan bisnis keluarga.
Jonas Jahja membagikan pengalamannya dalam mengelola PT. Medion sebagai bisnis keluarga selama puluhan tahun. “Dalam menjalankan family business, kita bisa bahagia 3 generasi, tetapi hal itu tidak bisa dilakukan dalam 1 malam,” ujar Jonas. Butuh suatu proses untuk bisa memiliki bisnis keluarga yang bertahan lintas generasi.
Salah satu permasalahan yang membuat bisnis keluarga umumnya tidak bisa bertahan lama adalah adanya konflik internal di lingkungan keluarga. Penyebab atau hal-hal yang dapat memacu konflik diantaranya, emosi, cemburu, dan persaingan. “Solusinya, memberikan informasi yang transparan kepada anggota keluarga dalam hal apapun termasuk yang menyangkut bisnis,” ujar Jonas.
Dalam menjalankan bisnis kita juga harus memberikan keteladanan dan disiplin dalam bekerja, menjalin hubungan baik dengan karyawan, serta meningkatkan kemampuan mereka dengan memberikan pelatihan.
Dari sisi keluarga, baik bapak, ibu, dan anak pun perlu diberikan pendidikan yang baik. “Keterampilan akan meningkat, semakin memiliki pandangan yang luas, semakin bijak, pertimbangannya pun akan lebih bagus,” ungkap Jonas.
Mengembangkan bisnis oleh generasi penerus
Tugas untuk mengembangkan dan menjalankan bisnis keluarga dilakukan oleh generasi penerus. Yirhan Sim, Wakil Direktur PT. Medion, memaparkan konsep dasar mengenai bisnis keluarga. Yirhan sendiri telah menerima pendidikan secara profesional berkaitan dengan bisnis keluarga di luar negeri.
Tantangan bagi generasi penerus adalah bagaimana mengubah manajemen dalam bisnis menjadi lebih baik. Dalam bisnis keluarga ada yang disebut generasi 1 (G1) sebagai perintis dan generasi 2 (G2) sebagai penerus, dan ada yang disebut generasi penghubung (G 1.5) yang merupakan professional managers, yang tidak ada kaitan keluarga.
“Ketika generasi perintis masih aktif, generasi kedua mulai sudah diikutsertakan, ini masa transisi. Ada yang masa transisinya cepat di bawah 10 tahun, ada juga yang di atas 10 tahun,” ujar Yirhan. G2 dibantu dengan G 1.5 dalam mengembangkan dan menjalankan bisnis.
Keempat anak Jonas dan Amalia yang turut berperan dalam menjalankan PT. Medion, yaitu Irena Jonas, Henry Jahja, Melina Jonas, dan Elvina Jahja masing-masing pun memberikan pandangannya.
“Di antara kita berempat meskipun berbeda-beda tapi punya kesamaan yaitu ingin memberikan yang terbaik. Salah satu yang paling penting adalah toleransi yang baik di antara kita. Membangun rasa toleransi untuk meminimalkan konflik,” ujar Irena menjawab pertanyaan peserta terkait manajemen konflik.
Sedangkan Elvina mengatakan bahwa jika konflik menyangkut bisnis, perlu melakukan pertimbangan- pertimbangan matang untuk mencapai suatu keputusan akhir. “Jika konfliknya terjadi di keluarga, kita punya penengah atau mediator,” ungkap Elvina.
Sementara itu, Melina mengungkapkan pentingnya komunikasi dalam masa peralihan ke generasi penerus. “Kita harus terbuka misalnya masalah ekspektasi dan visi. Meski nantinya kita tidak suka, kita harus tetap bertemu dan terbuka satu sama lain,” ungkapnya. Intensitas pertemuan keluarga yang cukup sering untuk membahas berbagai hal, seperti yang dikatakan oleh Yirhan, diharapkan akan menghasilkan kesepahaman.
Di samping itu, pertumbuhan bisnis juga menjadi isu yang penting. “Ketika mulai membangun usaha agar bisa berkembang atau masuk ke tahap berikutnya adalah dengan bekerja keras,” jelasnya. “Oleh G2 bisnis keluarga ini menjadi sesuatu yang harus dijaga. Konsep ini diperlukan, jika ada konsep menjaga maka tidak akan disalahgunakan,” tegas Yirhan.
G 1.5 pun turut membagikan pengalamannya selama bekerja di PT. Medion. “Saya cocok dengan budaya kekeluargaan di Medion, kami diberikan keleluasaan untuk mengembangkan diri, dan kami juga berperan menjembatani peralihan G1 ke G2,” ujar Witarso yang sudah berkarya di PT. Medion selama 35 tahun. Hal itu juga diamini oleh Purnama Hendra yang mengatakan bahwa budaya kekeluargaan menjadi nilai luar biasa yang dimiliki PT. Medion. Di sisi lain, Benny Sukianto mengungkapkan, masuknya G2 ke dalam perusahaan sangat terstruktur. “Tidak ada gap yang besar diantara kami di Medion,” tandasnya.
Perjalanan wisata
Rekreasi bersama pelanggan dan tim PT. Medion.
Agenda wisata yang berlangsung pada 8 Maret 2018 melengkapi rangkaian acara Diklat Medion kali ini. Pelanggan berkesempatan menikmati perjalanan wisata bersama-sama dengan tim PT. Medion menikmati Kota Bandung dengan mengunjungi Taman Hutan Raya di Dago, melakukan berbagai games seru, dan menyaksikan pertunjukan angklung di Saung Angklung Udjo dan diajak juga memainkan angklung. Di samping itu, berbelanja oleh-oleh di sederet gerai makanan khas Bandung. Makan malam bersama mengakhiri rangkaian kegiatan Diklat Medion pada tahun ini. Adv