POULTRYINDONESIA, Jakarta – Akses koperasi peternak terhadap bungkil kedelai atau soybean meal (SBM) kini semakin terbuka. PT Berdikari menyiapkan pasokan hingga 30.000 ton SBM sampai Desember 2026 yang dapat dibeli koperasi untuk memenuhi kebutuhan peternak, khususnya pelaku usaha mikro dan kecil.
Langkah ini merupakan tindak lanjut dari Rapat Koordinasi Perunggasan di Balai Besar Veteriner Farma (BBVF) Pusvetma, Surabaya, 11 Agustus 2026. Dalam pertemuan tersebut, tingginya biaya pakan menjadi salah satu persoalan yang disampaikan peternak kepada Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman.
Sepekan setelah pertemuan tersebut, PT Berdikari bersama Koperasi Produsen LPER pada 18 Agustus 2026 memulai kerja sama penyediaan 5.000 ton SBM untuk peternak rakyat di berbagai daerah. Skema tersebut menjadi langkah awal untuk memperpendek rantai pasok bahan baku pakan.
Tindak lanjutnya diperluas pada Senin (24/8/2026) melalui pertemuan daring PT Berdikari dengan perwakilan koperasi peternak dari berbagai daerah. Dalam pertemuan tersebut, PT Berdikari menyampaikan kesiapan menyediakan hingga 30.000 ton SBM.
Sebanyak 20.000 ton disiapkan melalui titik pengambilan di Cigading, Banten, sedangkan 10.000 ton lainnya melalui Teluk Lamong, Surabaya. SBM tersedia dalam kemasan 50 kilogram dengan harga Rp8.630 per kilogram loco gudang, atau barang berada di atas truk pada titik pengambilan. Harga tersebut berada di bawah kisaran Rp9.200–Rp9.700 per kilogram yang sebelumnya dikeluhkan sejumlah peternak pada awal Agustus.
Harga akhir di tingkat koperasi tetap bergantung pada lokasi dan ongkos distribusi masing-masing daerah. Namun, skema ini memberikan pilihan pasokan langsung dengan harga yang lebih terukur.
Selain harga, PT Berdikari menawarkan mekanisme pembelian tanpa uang muka atau down payment (DP). Koperasi cukup mengonsolidasikan kebutuhan anggotanya hingga Desember 2026, mengajukannya, kemudian melakukan pengambilan secara bertahap berdasarkan purchase order (PO).
General Manager Sales and Marketing PT Berdikari, Dheni Kamavina, mengatakan mekanisme tersebut memungkinkan koperasi memperoleh pasokan sesuai kebutuhan anggotanya.
“Kami memfasilitasi koperasi yang membutuhkan SBM atau bungkil kacang kedelai melalui PT Berdikari. Koperasi dapat menyampaikan kebutuhan sampai dengan Desember 2026, kemudian pengambilan dilakukan berdasarkan PO,” ujar Dheni.
Menurut Dheni, konsolidasi melalui koperasi membuat kebutuhan peternak mikro dan kecil dapat dihimpun dalam satu pembelian. Dengan demikian, peternak tidak harus mencari bahan baku secara sendiri-sendiri, sementara kebutuhan pasokan dapat direncanakan lebih awal.
Ketua Koperasi Bina Peternak Karya Bersama (BPKB), Eti Marlina, menyambut positif skema tersebut. Menurutnya, akses langsung melalui koperasi penting bagi peternak mikro dan kecil yang cukup sensitif terhadap perubahan biaya pakan.
“Kami berharap akses pembelian SBM melalui PT Berdikari ini benar-benar dapat dimanfaatkan koperasi peternak mikro dan kecil. Dengan adanya akses langsung, koperasi bisa mengonsolidasikan kebutuhan anggotanya sehingga pasokan bahan baku pakan lebih terjamin dan beban biaya pakan peternak dapat ditekan,” kata Eti.
Kementan sebelumnya menyatakan keterlibatan PT Berdikari dalam tata kelola SBM bukan untuk menutup peran swasta. Rekomendasi pemasukan SBM juga telah diberikan kepada 18 importir sejak 8 Mei 2026. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga ketersediaan bahan baku sekaligus menciptakan tata niaga yang lebih sehat.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda mengatakan pemerintah akan mengawal kebijakan tersebut dari sisi ketersediaan bahan baku hingga penyerapan hasil peternakan.
Dengan dibukanya akses hingga 30.000 ton SBM, tahap berikutnya adalah memastikan pasokan benar-benar terserap koperasi dan diteruskan kepada peternak sesuai kebutuhan. Efektivitas skema ini pada akhirnya akan terlihat dari kelancaran distribusi dan harga bahan baku yang diterima peternak di masing-masing daerah.
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.










