POULTRYINDONESIA, Jakarta – Turunnya harga telur ayam ras di tingkat peternak dalam beberapa pekan terakhir memicu kekhawatiran pelaku usaha perunggasan. Kondisi kelebihan pasokan yang tidak diimbangi dengan peningkatan serapan pasar menyebabkan harga telur jatuh hingga berada di bawah biaya produksi. Situasi ini mendorong peternak ayam petelur dari berbagai daerah mendatangi Kementerian Pertanian (Kementan) untuk menyampaikan aspirasi sekaligus meminta langkah konkret dari pemerintah.
Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, mengapresiasi capaian peternak ayam petelur nasional yang dinilai berhasil memenuhi kebutuhan dalam negeri hingga menciptakan surplus produksi.
“Di satu sisi kami bangga karena peternak ayam petelur Indonesia mampu memenuhi kebutuhan anak bangsa. Produksi telur kita bahkan surplus dan sudah memiliki peluang untuk ekspor,” ujar Amran.
Untuk menjaga keberlanjutan usaha peternak, Kementan menetapkan sejumlah langkah strategis. Salah satunya adalah mendorong seluruh pelaku usaha dan pembeli telur untuk mematuhi Harga Pokok Pembelian (HPP) telur ayam ras sebesar Rp26.500 per kilogram.
Selain itu, pemerintah juga telah menyalurkan bantuan jagung melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dikelola Bulog guna membantu menekan biaya produksi peternak.











